Pindah Cai Pindah Tampian

LAIN PADANG LAIN ILALANG

Penggalan Cerita Kesatu

"Haling sirahna Pak Abduh, tulisana teu kajeuleu!" Terdengar suara lantang dari belakangku."Kurang ajar. Tidak sopan sekali anak itu" Gumamku sambil melirik asal sumber suara. Armani yang duduk di bangku kedua dari belakang mengulangi perkataanya. "Pak Abduh heh, ulah ngahalangan papan tulis za kami teu bisa nyeuleu!" (Medio Juli, 2009)

Penggalan Cerita Kedua

"Geura hakanan, Ru, ulah ngantep beuteung!" Ucapan pribumi saat kami mampir di sebuah rumah warga dalam kegiatan kunjungan ke rumah anak (home visit) yang sudah lebih dari sepekan absen.  (Cireundeu, 2012)

Penggalan Cerita Ketiga

Saat bel istirahat berbunyi, dua siswi masuk ke ruang guru untuk mengembalikan buku paket. Mereka menghampiri kami. Salah seorang dari mereka berkata kepada saya, "Pak Abduh, si. Acih mah eureun sakolana. Kawin, poe Minggu kamari". "Pan, teu bebeja ka kami?" Saya bertanya. “Polongo pak Abduh mah. Atuh isineun pak". Jawabnya sambil tertawa. (Mei, 2015)

Penggalan Cerita Keempat

"Haling Pak Roni, ulah ngedeng didinya, arek disapuan heulan ku kami" Sambil memegang sapu lantai, Armah, siswi kelas IX menyuruh kepala sekolah yang lagi tengkurap istirahat untuk segera pindah. Sambil ketawa, Pak Roni, kepala sekolah yang sangat disegani guru itu bergegas merapikan tikar dan masuk ke ruang kantor. Semua orang yang menyaksikan pada waktu kejadian itu tertawa tebahak-bahak. Tak nampak sedikitpun penyesalan ataupun perasaan bersalah, siswi tersebut menyapu lantai kantor. (Mei, 2013)

     Bahasa merepresentasikan konsep yang terdapat dalam pikirannya sebagai rujukan dunianya melalui kategori gramatikal dan semantik sebagai entitas bahasa tersebut yang sekaligus dilestarikan disertai budayanya. Bahasa sebagai bagian dari budaya merupakan syarat mutlak pada budaya itu sendiri, karena kita hanya mengenal kebudayaan lewat bahasa yang dipergunakan untuk merefleksikan hal-hal yang menjadi nilai-nilai dalam suatu masyarakat dari apa yang mereka kerjakan.

    Dilihat dari konsep pemikiran Carl Gustav Jung tentang tipologi kepribadian, sebenarnya mayoritas masyarakat Cigaclung dan sekitarnya cenderung ekstrovert. Mereka berbicara dan bertindak secara spontan serta senang bekerja dalam kelompok. Spontanitas ketika berbicara (poksang) merupakan ciri khas masarakat Cigaclung. Ketika mereka berkomunikasi, bahasa yang mereka gunakan hampir tidak mengenal startifikasi sosial (undak usuk basa), baik ketika bebicara dengan orang yang lebih tua, orang yang baru mereka kenal, apalagi dengan teman sebaya. 

      Keempat penggalan dialog diatas menunjukan nyaris tidak adanya stratifikasi dalam bahasa yang mereka gunakan. Saat mereka berkomunikasi dengan siapapun, baik dengan teman sebaya, orang tua, maupun guru menggunakan diksi dan lentong (intonasi) yang sama.   

    Sebagai pendidik yang telah 11 tahun di sana saya terus berusaha mengenalkan bahasa Sunda "santun" dengan diksi dan intonasi ukuran sunda priangan agar para peserta didik dapat mengenal undak usuk (sistem ragam bahasa) yang mereka belum familiar. Salah satu tujuannnya adalah mereka akan lebih menghormati orang yang lebih tua dari mereka dan menghargai sesamanya.

       Dalam teori komunikasi, kita mengenal penetrasi sosial atau sebuah proses ikatan hubungan yang melibatkan dua orang atau lebih dalam rangka interaksi sosial pada lingkungan tertentu. Dalam menjalani tugas sebelas tahun itu, kebiasaan berbahasa mereka perlahan tertanam secara mendalam di alam bawah sadar saya sehingga banyak istilah yang meraka gunakan menjadi glosarium sebagai salah satu rujukan saat berkomunuikasi, baik di lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat, maupun dalam media sosial. 

       Selain itu, konten yang saya suka baik di media elektronik dan sosial adalah politik. Hampir tiap hari saya meninkmati berita terkait isu-isu potitik dengan diksi-diksi yang khas digunakan para politisi ataupun para pengamat semisal Rocky Gerung atau Fakhri Hamzah. Sebagian diksi yang sering mereka gunakan menjadi kontraproduktif ketika terimplementasikan dalam konteks dunia pendidikan. 

        Sekolah menuntuk warganya untuk menggunakan bahasa yang santun dan menghindari diksi yang berkonotasi negatif. Sebagai contoh dalam membuat deskripsi dalam buku laporan pendidikan (rapor). Wali kelas tidak direkomendasikan menggunakan diksi "tetap", "namun" ataupun "belum" karena ketiga kata itu dinilai negatif.  Kata "bodoh" harus diubah menjadi "mulai meningkat" atau "mulai terampil, kata "nakal" mesti diubah menjadi "mulai berkembang".        

      "Pindah Cai Pindah Pindah Tampian" merupakan peribahasa yang sangat familiar di masyarakat Sunda. Pribahasa tersebut mengajarkan kepada manusia untuk bisa menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Ketika seseorang pindah ke sebuah daerah, maka hendaklah segala ucap dan langkah yang kaitannya dengan norma kesopannan harus mengikuti daerah tersebut. 

    Adalah sebuah kebenaran absolut dengan apa yang disabdakan Rasulullah SAW bahwa keselamatan manusia tergantung pada kemapuannya menjaga lisan. Beberapa minggu kemarin Tuhan telah menegur saya karena kearoganan saya yang tidak pandai menjaga lisan sehingga ada orang lain yang tersakiti. Ampuni hamba Ya Rab! Aku baru sadar bahwa diantara kesombongan itu adalah ketika menolak kebenaran dan merendahkan orang lain...😢😢   

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Koneksi Antar Materi: Nilai-Nilai dan Peran Guru Penggerak