KEGIATAN MOJEY SEBAGAI BENTUK PENERAPAN BUDAYA POSITIF DI SMPN 4 LEBAKGEDONG
KEGIATAN MOJEY SEBAGAI BENTUK PENERAPAN BUDAYA POSITIF DI SMPN 4 LEBAKGEDONG
A.
Latar Belakang
Terwujudnya para pelajar yang beriman, bertakwa kepada
Tuhan YME, dan berakhlak mulia merupakan salah satu Profil Pelajar Pancasila
yang menjadi tujuan dari Merdeka Belajar. Untuk mewujudkan tujuan tesebut, perlu
upaya dari berbagai pihak, termasuk sekolah sebagai insitusi pendidikan yang
selalu berkolaborasi dan menjaga hubungan yang harmonis dengan masyarakat di
sekitarnya.
Sebagai institusi yang berada di lingkungan masyarakat religius
dengan banyaknya pondok pesantren, SMPN 4 Lebakgedong terus berupaya mewujudkan
program-program keagamaan sebagai penerapan budaya positif di sekolah seperti
pelaksanaan sholat dhuha dan sholat dzuhur berjama’ah, kegiatan peringatan
hari-hari besar keagamaan, serta program tahfidz Al Qur’an. Meskipun di masa pandemi
Covid 19, SMPN 4 Lebakgedong masih melaksanakan program-program yang
dimungkinkan dilaksanakan melalui moda daring, baik secara sinkronus melalui
google meet, maupun asinkronus seperti pemanfaatan fitur voice note WA.
Program tahfidz Al Quran atau Memorize One Juz Every
Year(MOJEY) merupakan salah satu program unggulan yang telah dilaksanakan
di SMPN 4 Lebakgedong sejak Tahun Ajaran 2019/2020. Salah satu tujuan program
ini adalah untuk membangun generasi pencinta, penghafal dan pengamal Al Qur'an
dan memberdayakan peserta didik agar dapat berdedikasi ditengah masyarakat
secara optimal dan hidup secara mandiri, sekaligus menjadi uswatun hasanah. Pengkajian
dan pendalaman terhadap sumber ajaran Islam yaitu Al Qur’an harus menjadi landasan
dan pondasi dalam berpikir dan berkiprah, begitu juga mendidik anak-anak supaya
gemar mempelajari Al Qur’an karena pada usia anak-anak adalah masa keemasan bagi
orang tua agar anaknya untuk belajar al-Qur’an. Prospek tingkat hafalan pada usia
anak-anak memiliki peluang yang sangat besar karena daya ingat atau kemampuan
mengahafal pada usia tersebut masih sangat baik.
B.
Deskripsi Implementasi Program MOJEY
Berbeda dengan lembaga yang fokus dalam bidang keagamaan
seperti pondok pesantren, program MOJEY di SMPN 4 Lebakgedong merupakan program
unggulan yang dirancang menjadi kegiatan pembiasaan yang dapat membentuk budaya
positif di sekolah. Program MOJEY ini merupakan salah satu bentuk kegiatan
dalam mewujudkan visi sekolah yaitu “Terwujudnya warga sekolah yang berakhlak
mulia, berprestasi, dan berbudaya lingkungan.
Dalam implementasinya, sebelum adanya pandemi Covid 19, kegiatan ini dilaksanakan secara tatap muka (talaqi) tiap hari efektif, Senin sampai Sabtu, pukul 07.00 s.d 07.30 di ruang kelas masing masing oleh para pembimbing yang telah di-SK-kan oleh kepala sekolah. Tiap hari, tiap peserta didik diwajibkan menyetor minimal satu ayat. Pada program tahun pertama, hapalan tiap angkatan yakni kelas VII, VIII, dan IX adalah juz 30. Sejak pertengahan Maret 2020, pelaksanaan program ini menggunakan moda daring asingkronus dengan memanfaatkan fitur voice note WA. Selain itu, waktu setoran saat pandemic tidak dibatasi, bisa kapan saja tergantung kesiapan murid dan guru pembimbingnya.
Tahapan proses dalam pelaksanaan MOJEY ini adalah sebagi berikut:
- Setoran hafalan al-Qur'an secara tartil
- Pengulangan hafalan
- Pengulangan dari awal juz
- Setoran al-Qur'an yang dilakukan pada setiap kali setelah peserta didik menyelesaikan 25% dari Juz 30
Adapun metode tahfidz yang dilaksanakan di SMPN 4 Lebakgedong adalah sebagai berikut:
- Tahsin. Proses ini dilakukan untuk mengajarkan kepada para santri cara pelafalan al-Qur'an yang baik dan benar. Baik dari segi makhraj al-huruf sekaligus kaidah tajwidnya.
- Talaqqi. Kegiatan tahsin, sebagaimana yang telah dijelaskan di atas, diselingi dengan proses talaqqi, yakni proses memperdengarkan hafalan ayat-ayat Al[1]Qur'an secara langsung di depan guru pembimbing tahfidz.
C. Tolok Ukur Keberhasilan
Pada akhir tahun ajaran 2019/2020, terdapat 53% murid
yang telah hapal juz 30. Namun belum sempat dilaksankan muraja’ah karena terjadi
musibah Covid 19 yang memaksa sekolah harus belajar dari rumah. Meskipun demikian,
sekolah telah berupaya seoptimal mungkin untuk melanjutkan program tesebut. Ada
beberapa hal yang bisa dijadikan sebagai tolok ukur keberhasilan implementasi
program MOJEY. Di antaranya sebagai berikut.
- Para murid dan guru menjadi terbiasa menghapal Alquran setiap hari dimanapun dan kapanpun
- Para murid dan guru secara konsisten menyampaikan laporan di grup WhatsApp setiap hari.
- Para murid dan guru saling mengingatkan dan memberikan motivasi untuk terus semangat dalam menghapal Alquran.
- Para murid mampu membuat manajemen waktu dan memiliki jadwal tersendiri untuk menghapal Alquran.
- Para murid menjadi lebih religius dan lebih aktif dalam kegiatan keagamaan.
- Para murid terbiasa bersikap jujur, bertanggung jawab, dan saling menyemangati.
D. Evaluasi Kegiatan
Kegiatan MOJEY belum sepenuhnya terlaksana sesuai
rencana. Ada beberapa kendala tersebut di antaranya:
- murid tidak memiliki kuota internet, sehingga merka tidak bisa menyetor hapalannya
- guru pembimbing tidak dapat memfasilitasi peserta didik yang akan setor karena kesibukannya atau karena tidak memiliki kuota internet,
- ketika menggunakan voice note, kejujuran peserta didik tidak bisa terobservasi
Berdasarkan kendala-kendala tersebut, ada beberapa hal yang harus diperbaiki dalam pelaksanaan kegiatan mengaji MOJEY, yaitu sebagai berikut:
- Sekolah memfasilitasi kuota internet peserta didik dan guru.
- Optimalisasi supervisi dan pemberian motivasi oleh kepala sekolah.
- Menggunakan LMS sinkronus saat murid menyetor ayat.
E. Penutup
Sebagai program unggulan, sekolah berupaya seoptimal mungkin
menjalankan program MOJEY dalam rangka membentuk budaya positif murid yang berkarakter
dengan sikap religius, jujur, bertanggung jawab, dan mampu berkolaborasi.
Comments
Post a Comment