Demontrasi Kontekstual _Pengambilan Keputusan sebagai pemimpin pembelajaran

Rasulullah saw bersabda

عَنْ عَمْرِو بْنِالْعَاصِ – رضي الله عنه – أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّىاللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يقول إِذَا حَكَمَ الْحَاكِمُ فَاجْتَهَدَثُمَّ أَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ وَإِذَا حَكَمَ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَخْطَأَفَلَهُ أَجْرٌ.

Dari Amr bin Ash bahwa ia mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Ketika seorang hakim hendak memutuskan hukum, lalu berijtihad, kemudian benar, ia mendapatkan dua pahala. Jika ia hendak memutuskan hukum, lalu berijtihad kemudian ternyata salah, ia dapat satu pahala.” (HR. Muslim)

Salah satu tugas tersulit bagi seorang pemimpin, termasuk pemimpin pembelajaran di sekolah adalah mengambil suatu  keputusan yang efektif. Keputusan-keputusan yang secara langsung atau tidak langsung dapat menentukan arah dan tujuan sekolah yang dipimpinnya sehingga berdampak kepada mutu pendidikan yang didapatkan murid-murid. Ketika kita dihadapkan pada sebuah persoalan yang harus diputuskan, kita harus memastikan bahwa persoalan yang kita hadapi benar benar merupakan dilema etika antara benar versus benar, bukan antara benar versus salah (bujukan moral). Dalam menghadapi situasi dilema etika, akan ada nilai-nilai kebajikan mendasari yang bertentangan seperti cinta dan kasih sayang, kebenaran, keadilan, kebebasan, persatuan, toleransi, tanggung jawab dan penghargaan akan hidup.

Ada 4 paradigma yang dapat digunakan ketika kita dihadapkan pada sebuah dilema etika, yaitu antara: 

  1. Individu lawan masyarakat (individual vs community). Dilema individu melawan masyarakat adalah bagaimana membuat pilihan antara apa yang benar untuk satu orang atau kelompok kecil , dan apa yang benar untuk yang lain, kelompok yang lebih besar. 
  2. Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy). Pilihan yang ada adalah memilih antara keadilan dan perlakuan yang sama bagi semua orang di satu sisi, dan membuat pengecualian karena kemurahan hati dan kasih sayang, di sisi lain.
  3. Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty). Kejujuran dan kesetiaan seringkali menjadi nilai-nilai yang bertentangan dalam situasi dilema etika. Kadang kita perlu untuk membuat pilihan antara berlaku jujur dan berlaku setia (atau bertanggung jawab) kepada orang lain.
  4. Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term). Kadang perlu untuk memilih antara yang kelihatannya terbaik untuk saat ini dan yang terbaik untuk masa yang akan datang.

Selain 4 paradigma yang merupakan aturan-aturan apa yang harus diikuti dalam menginterpretasikan informasi yang dikumpulkan dalam rangka menjawab persoalan-persoalan tersebut (biar konsisten), kita juga harus memiliki 3 prinsip dalam menghadapi dilema etika yakni: (1) berpikir berbasis hasil akhir (End Based Thinking). Prinsip ini mengatakan "Saya lakukan karena ini yang terbaik untuk kebanyakan orang", (2) berpikir berbasis peraturan (Rule Based Thinking). Prinsip ini mengatakan "Ikuti prinsip atau ataura aturan yang telah ditetapkan" (3) berfikir berbasis rasa peduli (Care Based Thinking). Prinsip ini mengatakan "Memutuskan sesuatu dengan pemikiran apa yang Anda harapkan orang lakukan terhadap Anda). 

Dalam mengambil keputusan dan menguji keputusan yang akan diambil dalam situasi dilema etika ataupun bujukan moral yang bertentangan, ada 9 sintaks yang dapat kita lakukan, yaitu:

  1. Mengenali nilai-nilai yang saling bertentangan
  2. Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini
  3. Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini. 
  4. Pengujian benar atau salah yang terdiri dari: uji legalitas, uji regulasi, uji intusi, uji publikasi, dan uji panutan/idola
  5. Pengujian paradigma benar lawan benar.   
  6. Melakukan prinsip resolusi. Kegiatan ini untuk menentukan prinsip mana yang akan digunakan.
  7. Investigasi Opsi Trilema
  8. Membuat keputusan
  9. Melihat lagi keputusan dan Merefeleksikan 

Ada 4  langkah kegiatan yang akan saya lakukan dalam mentransfer dan menerapkan pengetahuan terkait pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran di SMPN 4 Lebakgedong, yaitu sosialsiasi, eksternalisasi, kombinasi, dan internalisasi. 

  1. Sosialisasi merupakan proses sharing pengetahun terkait materi empat paradigma dilema etika, 3 prinsip dilema etika, dan 9 langkah pengujian dalam mengambil keputusan sebagai pemimpin pembelajaran kepada kepala sekolah, rekan guru, dan para murid. Kegiatan sosialisasi terhadap kepala sekolah dan rekan kerja akan dilaksnakan pada minggu pertama bulan September, yakni pada saat kegiatan rapat dinas. Sementara, terhadap peserta didik, akan dilaksanakan pada kegiatan jeda tengah semester ganjil dan dalam kegiatan PTMT.  
  2. Eksternalisasi merupakan pengartikulasian seluluh materi modul 3.1 tentang pengambilan keputusan melalui kegiatan dialog dan refleksi yang dilaksanakan dua kali dalam sepekan melalui media online dan media sosial lainya. Untuk minggu pertama, materi yang dibahas terkait 4 paradigma etika, minggu kedua tentang 3 prinsip mengahadapi dilema etika, dan pada minggu ketiga yaitu materi tentang 9 langkah pengujian keputusan. 
  3. Kombinasi merupakan proses konversi pemahaman warga sekolah terkait modul 3.1 tentang pengambilan keputusan melalui sistemisasi dan penerapan pengambilan keputusan. Adalah sebuah fakta bahwa dalam proses kegiatan pembelajaran di sekolah selalu terjadi dilema etika. Maka jika terjadi, semua warga sekolah telah memiliki pemahaman terkait modul 3.1 tentang pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran.  
  4. Internalisasi merupakan proses pembelajaran dan akuisisi pemahaman warga sekolah terkait modul 3.1 tentang pengambilan keputusan yang akan didiseminasikan kepada orang lain. Semua warga sekolah yang telah mendapatkan pemahaman terkait pengambilan keputusan mendiseminasikan kepada lingkungan mereka masing masing, baik keluarga, komunitas, maupun masyakrakat.

Pemimpin pembelajar yang efektif tidak banyak membuat keputusan yang cepat. Mereka adalah orang-orang yang fokus pada hal-hal yang penting dan mencoba membuat keputusan berdasarkan tingkat pemahaman konseptual tertinggi. Mereka ingin mengetahui segala sesuatu di balik keputusan sehingga keputusan tersebut dapat dibentuk berdasarkan 4 paradigma, 3 prinsip, dan 9 langkah langkah pengujian. Seorang pemimpin yang efektif telah mengetahui bahwa keputusan terumit merupakan alternatif antara yang benar dan yang benar. Jika persoalan dilema etika telah dilakukan 9 langkah pengujian, maka pengambilan keputusan akan efektif. 


Comments

Popular posts from this blog

Pindah Cai Pindah Tampian

Koneksi Antar Materi: Nilai-Nilai dan Peran Guru Penggerak