Koneksi Antar Materi_Pengambilan Keputusan Pemimpin Pembelajaran

Koneksi Antar Materi_Pengambilan Keputusan Pemimpin Pembelajaran

By: Muhamad Abduh


"Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhan dan melaksanakan salat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka; dan mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka, (

QS. Asy-Syura Ayat 38



A. Dilema Etika Versus Bujukan Moral

1. Etika dan Moral

Secara konsptual, etika dan moral merupakan kata yang sama, yaitu menilai mengenai sesuatu yang dianggap baik dan buruk. Perbedaan keduanya menurut Moral PN. Masnizah Mohd (2005) bahwa moral menyangkut tentang persoalan yang benar atau salah, sesuatu yang perlu dilakukan dan ditinggalkan atau alasan-alasan tertentu pada suatu keadaan tertentu. Sedangkan etika merupakan studi mengenai bagaimana tingkah laku suatu individu atau golongan bernilai baik atau sebaliknya yang berdampak pada sosial. Singkatnya, moral ialah kebiasaan yang berlaku dalam suatu masyarakat, sesuatu yang diterima oleh masyarakat.

Perbedaan etika dan moral yaitu: (a) Etika merupakan salah satu cabang ilmu filsafat yang mengkaji mengenai nilai yang dianggap baik atau buruk. Sedangkan moral merupakan kebiasaan yang diterima oleh suatu masyarakat. (b) Sumber mendasar etika yang dianggap baik atau uruk adalah akal pikiran sendiri. Sedangkan sumber yang mendasari moral adalah masyarakat itu sendiri. (c) Etika merupakan dasar dari terbentuknya moral suatu masyarakat. Tanpa adanya etika maka moral masyarakat tidak terbentuk. Etika yang berasal dari akal pikiran menjadi dasar masyarakat untuk menerima suatu kebiasaan atau nilai yang muncul baik atu buruk. (d) Etika bersifat filosofis sedangkan moral bersifat praksis. (e) Moral tidak akan terbentuk tanpa adanya etika. 

2. Dilema Etika dan Bujukan Moral

Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang dihadapkan pada situasi dimana terjadi pertentangan batin, karena sebenarnya ia tahu bahwa keputusan yang diambinya salah. Kondisi seperti ini disebut oleh Aren & Loebecke (200) sebagai bujukan moral. Dilema etika merupakan situasi yang terjadi ketika seseorang harus memilih antara dua pilihan di mana kedua pilihan secara moral benar tetapi bertentangan, sedangkan bujukan moral merupakan situasi yang terjadi ketika seseorang harus membuat keputusan antara benar atau salah.

Tiap profesi memiliki tanggung jawab dan etika profesi ketika mengambil sebuah keputusan. Sebagai contoh, seorang hakim memiliki tanggung jawab atas putusan yang ia jatuhkan. Demikian juga dengan profesi guru sebagai pemimpin pembelajaran di sekolah. Guru harus meningkatkan pemahaman terkait etika dengan benar agar tiap keputusan yang dihasilkan dapat menguntungkan semua pihak dan menggambarkan suatu keputusan yang benar dan adil, serta berpihak pada murid. Guru juga dituntut terampil dalam mencari solusi dan mengambil keputusan dalam menghadapi kasus-kasus non-teknis pembelajaran yang bersifat dilema etika, misalnya kasus perundungan, pelecehan seksual, pernikahan dini, dan kasus-kasus serupa yang termasuk dalam kategori pelanggaran etika.


Mengambil suatu keputusan yang efektif merupakan salah satu tugas tersulit bagi pemimpin pembelajaran di sekolah adalah. Keputusan-keputusan yang secara langsung atau tidak langsung dapat menentukan arah dan tujuan sekolah yang dipimpinnya sehingga berdampak kepada mutu pendidikan yang didapatkan murid-murid. Ketika kita dihadapkan pada sebuah persoalan yang harus diputuskan, kita harus memastikan bahwa persoalan yang kita hadapi benar benar merupakan dilema etika antara benar versus benar, bukan antara benar versus salah (bujukan moral). Dalam menghadapi situasi dilema etika, akan ada nilai-nilai kebajikan mendasari yang bertentangan seperti cinta dan kasih sayang, kebenaran, keadilan, kebebasan, persatuan, toleransi, tanggung jawab dan penghargaan akan hidup. Guru sering dihadapkan pada kasus-kasus dilema etika yang menuntutnya untuk mampu mengambil keputusan efektif dan terbaik bagi murid. Setiap keputusan yang diambil guru dalam merespon kasus dilema etis akan membawa dampak besar bagi perkembangan dan masa depan murid. Oleh karena itu, guru harus memastikan  bahwa keputusan bahwa persolan yang dihadapi merupakan dilema etika, bukan merupakan bujukan moral.

B. Filosofi Ki Hajar Dewantara terkait Pratap Triloka yang memiliki pengaruh terhadap pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran.

Menurut KH Dewantara, tujuan dari proses pendidikan adalah untuk “menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi tingginya”. Kata “tuntunan”, bisa berarti acuan dasar bagi guru untuk melakukan sesuatu yang tidak bersifat sementara, melainkan bisa digunakan berkali-kali ketika diperlukan. Selain itu, sumber tuntunan ini tidak terpaku pada satu sumber saja, tetapi bisa juga diambil dari berbagai sumber yang tentunya harus memiliki nilai yang baik di dalamnya atau terdapat budaya positif. Untuk itu, guru harus memiliki nilai- nilai diri yaitu mandiri, berpikir reflektif, inovatif, kolaboratif dan berpusat pada murid. Selain itu dengan mempelajari teknik dalam pengelolaan emosi dan teknik coaching, seorang guru dapat memberikan solusi terbaik dalam mengambil sikap sebelum bertindak untuk memutuskan suatu persoalan.

Sebagai pendidik yang memiliki karakter momong, among dan ngemong dengan tiga prinsip kepemimpinan KH Dewantara yaitu, Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, dan Tut Wuri Handayani, akan menjadikan guru  fasilitator, organisator, inisiator, katalisator dan motivator terbaik bagi murid. Selama guru menuntun murid, ketika dihadapkan pada suatu dilema baik dilema etika dan bujukan moral, guru tetap bisa mengedapankan 3 prinsip kepemimpinan KH Dewantara agar keputusan yang diambil tetap memprioritaskan mereka pada kelebihan yang mereka miliki.

  • Ing Ngarsa Sung TuladhaSeseorang guru sebagai pemimpin pembelajaran harus bisa memberi teladan atau contoh kepada murid Guru akan terus mendorong kreatifitas muridnya dengan memberikan contoh atau role mode yang tetap mengedepankan nilai nilai baik. Selama proses pembelajaran guru tanpa sadar menjadi panutan (uswah) bagi murid baik dari perkataan maupun perbuatan. 
  • Ing Madya Mangun Karsa. Guru sebagai pemimpin pembelajaran memiliki peranan penting untuk menstimulus murid agar terciptanya prakarsa dan ide di dalam proses pembelajaran. Eksistensi guru dapat memfasilitasi dengan beragam model, metode dan strategi agar tujuan pembelajar dapat tercapai. Selain itu, potensi yang dimilik oleh murid dapat berkembang dengan baik sesuai dengan potensi yang dimilkinya.
  • Tut Wuri Handayani. Dalam proses pembelajaran, guru harus memberi dorongan  dalam bentuk konselor, mentor dan coaching kepada muridnya, berikan kebebasan murid untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya guru hanya mengamati dan memberikan arahan terhadap siswanya

Adalah sebuah kebenaran umum bahwa setiap anak itu unik dan berbeda. Oleh karena itu, guru harus mampu menuntun mereka sesuai kodratnya. Dengan pembelajaran berdiferensiasi ini dapat memberikan ruang untuk menyelaraskan dengan konsep Merdeka Belajar dan Filosofi KHD. Adanya Pembelajaran ini dapat mengakomodasi segala kelebihan dan kekurangan murid dalam meningkatkan kompetensi diri yang sesuai dengan profil pelajar pancasila.  Pratap Triloka yakni: Ing ngarso sung tulodho, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani sangatlah penting dimiliki oleh guru sebagai seorang pamong/ pemimpin pembelajaran mampu menjadi teladan bagi murid, memberikan dorongan, memberi arahan dan penyemangat dalam pengampilan keputusan yang membuat rasa aman, nyaman dan menyenangkan sehingga keputusan yang diambil akan menjadi teladan juga bagi seluruh warga sekolah.

C. Internalisasi Nilai-Nilai Guru Penggerak Terhadap Prinsip-Prinsip Pengambilan Suatu Keputusan 

Nilai-nilai  yang harus ada dalam diri guru penggerak yakni: mandiri, berfikir reflektif, kolaboratif, inovatif, dan berpusat pada murid. Nilai-nilai tersebut harus tertanam didalam jiwa seorang guru agar guru tersebut menjadi tangguh dalam memimpin suatu pembelajaran. Tidak mudah menyerah, tidak mudah putus asa, optimis, semangat dan mampu menyelesaikan masalah  dalam setiap pembelajaran. Dengan itu guru harus mampu mentransfer nilai nilai tersebut kepada murid dalam setiap mata pelajaran, tidak hanya fokus terhadap materi yang bersifat kognitif.  Jika guru mampu mentrnasfer nilai tersebut kepada murid maka profil pelajar pancasila yang beriman, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, kreatif, gotong royong, berkebinekaan global, bernalar Kritis, dan mandiri yang menjadi tujuan  kedepan akan terwujud.

Dalam konteks pengambian keputusan, ketika kita menghadapi situasi dilema etika (benar Vs benar) , akan ada nilai-nilai kebajikan mendasari yang bertentangan seperti cinta dan kasih sayang, kebenaran, keadilan, kebebasan, persatuan, toleransi, tanggung jawab dan penghargaan  akan hidup. Begitu juga jika kita berhadapan dengan situasi bujukan moral (benar Vs balah). Untuk dapat mengambil keputusan diperlukan nilai-nilai atau prinsip dan pendekatan sehingga keputusan tersebut merupakan keputusan yang paling tepat dengan resiko yang paling minim bagi semua pihak, terutama bagi kepentingan /keberpihakan pada anak didik kita.

Dalam proses pengambilan keputusan yang bertanggung jawab, diperlukan kompetensi sosial emosional seperti  kesadaran diri (self awareness), pengelolaan diri (self management), kesadaran sosial (social awareness) dan ketrampilan berhubungan sosial (relationship skills). Diharapkan proses pengambilan keputusan dapat dilakukan secara sadar penuh (mindfull), terutama sadar dengan berbagai pilihan dan konsekuensi yang ada.


D. Korelasi Pengambilan Keputusan dengan Kegiatan Coaching

Coaching merupakan salah satu proses ‘menuntun’ kemerdekaan belajar murid dalam pembelajaran yang berpihak pada murid. Coaching menjadi proses yang sangat penting dilakukan di sekolah yang dapat membuat murid menjadi lebih merdeka dalam belajar untuk mengeksplorasi diri guna mencapai tujuan pembelajaran dan memaksimalkan potensinya. Coaching dapat menjadi salah satu langkah tepat bagi guru untuk membantu murid untuk memaksimalkan potensinya, termasuk dalam hal pengambilan keputusan. Coaching merupakan proses untuk mengaktivasi kerja otak murid. Pertanyaan-pertanyaan reflektif yang diberikan Coach dapat membuat murid seabagai coachee melakukan metakognisi untuk mengambil keputusan dengan memilih sendiri alternatif/solusi dari permasalahan yang dihadapinya tanpa paksaan dan campur tangan orang lain.

TIRTA merupakan model coaching yang dikembangkan dengan semangat merdeka belajar. Model ini menuntut guru untuk memiliki keterampilan coaching. Hal ini penting mengingat tujuan coaching, yaitu untuk melejitkan potensi murid agar menjadi lebih merdeka. TIRTA adalah satu model coaching yang diperkenalkan dalam Program Pendidikan Guru Penggerak saat ini. TIRTA dikembangkan dari Model GROW . GROW adalah akronim dari Goal, Reality, Options dan Will. Goal (Tujuan): coach perlu mengetahui apa tujuan yang hendak dicapai coachee dari sesi coaching ini, Reality (Hal-hal yang nyata): proses menggali semua hal yang terjadi pada diri coachee, Options (Pilihan): coach membantu coachee dalam memilah dan memilih hasil pemikiran selama sesi yang nantinya akan dijadikan sebuah rancangan aksi. Will (Keinginan untuk maju): komitmen coachee dalam membuat sebuah rencana aksi dan menjalankannya.TIRTA akronim dari :T (Tujuan), I (Identifikasi), R (Rencana Aksi), dan TA (tanggung Jawab).

E. Studi Kasus pada Masalah Moral atau Etika 

Pada dasarnya, nilai dan peran seorang pendidik dalam mewujudkan visi pendidikan yang berpusat pada murid akan berperan penting. Pengambilan keputusan pada masalah moral atau etika yang benar, tepat sasaran dan minim resiko bagi anak didik adalah tujuan utama. Dengan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan, maka diharapkan dapat diperoleh keputusan yang dapat mengakomodasi semua kepentingan dari pihak-pihak yang terlibat dalam kasus tersebut. Tujuan utama pengambilan selalu pada kepentingan dan keberpihakan pada anak didik .

F. Pengambilan Keputusan yang tepat dan Berdampak pada Terciptanya Lingkungan yang Positif, Kondusif, Aman dan Nyaman.

Keputusan yang diambil tekait kasus-kasus pada masalah moral atau etika hanya dapat dicapai jika dilakukan melalui 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Jika pengambilan keputusan dilakukan secara akurat melalui proses analisis kasus yang cermat dan sesuai dengan 9 langkah tersebut, maka dapat dipastikan keputusan tersebut diyakini akan mampu mengakomodasi semua kepentingan dari pihak-pihak yang terlibat serta akan berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

Secara rinci, untuk mencapai keputusan yang tepat dan berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman, dan nyaman, pemimpin pembelajaran harus memiliki pemahaman secara komprehensif terkait 4 paradigma yang dapat digunakan ketika kita dihadapkan pada sebuah dilema etika, yaitu antara: 

  1. Individu lawan masyarakat (individual vs community). Dilema individu melawan masyarakat adalah bagaimana membuat pilihan antara apa yang benar untuk satu orang atau kelompok kecil , dan apa yang benar untuk yang lain, kelompok yang lebih besar. 
  2. Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy). Pilihan yang ada adalah memilih antara keadilan dan perlakuan yang sama bagi semua orang di satu sisi, dan membuat pengecualian karena kemurahan hati dan kasih sayang, di sisi lain.
  3. Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty). Kejujuran dan kesetiaan seringkali menjadi nilai-nilai yang bertentangan dalam situasi dilema etika. Kadang kita perlu untuk membuat pilihan antara berlaku jujur dan berlaku setia (atau bertanggung jawab) kepada orang lain.
  4. Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term). Kadang perlu untuk memilih antara yang kelihatannya terbaik untuk saat ini dan yang terbaik untuk masa yang akan datang.

Selain 4 paradigma yang merupakan aturan-aturan apa yang harus diikuti dalam menginterpretasikan informasi yang dikumpulkan dalam rangka menjawab persoalan-persoalan tersebut (biar konsisten), kita juga harus memiliki 3 prinsip dalam menghadapi dilema etika yakni: (1) berpikir berbasis hasil akhir (End Based Thinking). Prinsip ini mengatakan "Saya lakukan karena ini yang terbaik untuk kebanyakan orang", (2) berpikir berbasis peraturan (Rule Based Thinking). Prinsip ini mengatakan "Ikuti prinsip atau ataura aturan yang telah ditetapkan" (3) berfikir berbasis rasa peduli (Care Based Thinking). Prinsip ini mengatakan "Memutuskan sesuatu dengan pemikiran apa yang Anda harapkan orang lakukan terhadap Anda). 

Dalam mengambil keputusan dan menguji keputusan yang akan diambil dalam situasi dilema etika ataupun bujukan moral yang bertentangan, ada 9 sintaks yang dapat kita lakukan, yaitu:

  1. Mengenali nilai-nilai yang saling bertentangan
  2. Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini
  3. Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini. 
  4. Pengujian benar atau salah yang terdiri dari: uji legalitas, uji regulasi, uji intusi, uji publikasi, dan uji panutan/idola
  5. Pengujian paradigma benar lawan benar.   
  6. Melakukan prinsip resolusi. Kegiatan ini untuk menentukan prinsip mana yang akan digunakan.
  7. Investigasi Opsi Trilema
  8. Membuat keputusan
  9. Melihat lagi keputusan dan Merefeleksikan 

G. Kesulitan-kesulitan yang dihadapi untuk menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika dalam mengubah paradigma Lingkunga  Sekolah?

Kesulitan-kesulitan yang dialami di lingkungan sekolah dalam mengambil keputusan adalah sebagai berikut:

  1. Rasa takut/ ragu dengan keputusan sendiri
  2. Perbedaan paradigma yang digunakan antara pihak yang terlibat, khususnya pihak yang punya otoritas
  3. Kesalahan penafsiran/ pengambilan keputusan terhadap data/informasi yang diterima

Sebagai seorang pemimpin pembelajaran kita sering dihadapkan pada situasi dimana kita diharuskan mengambil suatu keputusan, namun terkadang dalam pengambilan keputusan terutama pada situasi dilema kita masih kesulitan misalnya lingkungan yang kurang mendukung, bertentangan dengan peraturan/ kebijakan yang lebih berwenang. Oleh karena itu, proses pengambilan keputusan membutuhkan keberanian dan kepercayaan diri untuk menghadapi konsekuensi dan implikasi dari keputusan yang kita ambil karena tidak ada keputusan yang bisa sepenuhnya mengakomodir seluruh kepentingan para pemangku kepentingan. Untuk membuat keputusan berbasis etika, diperlukan kesamaan visi, budaya dan nilai-nilai yang dianggap penting dalam sebuah institusi sehingga prinsip-prinsip dasar yang menjadi acuan akan lebih jelas.

H. Pengaruh pengambilan keputusan dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid

Pada konteks merdeka belajar, proses pembelajaran yang dilakukan adalah yang berpihak pada murid. Karena itu, pengambilan keputusan yang dilakukan guru dalam proses pembelajaran hendaknya dapat “menuntun” dan memberikan ruang bagi murid dalam proses pengajaran untuk merdeka mengemukakan pendapat dan mengekspresikan ilmu -ilmu baru yang didapatnya. Dengan demikian murid-murid dapat belajar mengambil keputusan yang sesuai dengan pilihannya sendiri tanpa paksaan dan campur tangan orang lain.

I. Pengambilan Keputusan Pemimpin Pembelajaran yang dapat mempengaruhi Kehidupan Masa Depan murid  

Ketika guru sebagai pemimpin pembelajaran melakukan pengambilan keputusan yang memerdekakan dan berpihak pada murid , maka dapat dipastikan murid-muridnya akan belajar menjadi oang-orang yang merdeka, kreatif , inovatif dalam mengambil keputusan yang menentukan bagi masa depan mereka sendiri. Di masa depan mereka akan tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang matang, penuh pertimbangan dan cermat dalam mengambil keputusan-keputusan penting bagi kehidupan dan pekerjaannya.


J. Kesimpulan

Kebenaran yang sebenar-benarnya adalah milik Allah SWT. Pengambil keputusan seorang pemimpin sebagai manusia dalam membuat keputusan sangat relatif kebenarannya. Pemimpin tidak boleh ragu dalam membuat keputusan hanya karena khawatir keputusannya  akan salah. Bila putusan pemipin pembelajaran ini dianalogikan dengan keputusan pejabat, maka keputusan harus dibuat. Pejabat harus mengambil keputusan. Bahkan, tidak mengambil keputusan pun dianggap sebagai keputusan yang telah diambil. 

Ada 3 prinsip dalam pengambilan keputusan yang ketiga prinsip tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan dan menuai banyak kritik. Tugas pemimpin pembelajaran adalah memilih prinsip yang tepat dari dilema etika tersebut. Jika persoalan yang harus diputuskan merupakan dilema etika, untuk kebutuhan yang berdampak pada murid, keputusan yang diambil harus  menggedepankan prinsip Care Based thinking (kepedulian) daripada Rule Based thingking (aturan). Sebaliknya, jika persoalannya merupakan bujukan  moral, pertentangan anatara yang benar dan salah, Rule Based thingking (aturan) yang dikedepankan. 

Nilai dan peran guru sangat penting dalam menuntun dan mengembangkan potensi murid. Sebagai pendidik, kita harus memiliki mindful dalam mengambil keputusan sebagai pemimpin pembelajaran yang berpihak pada murid agar terwujudnya profil pelajar pancasila dan mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.


Comments

  1. Masha Allah pemaparan yg kuar biasa pa Ustadz..mantaaap, jdi bnyak tambahan ilmu, syukron

    ReplyDelete
  2. Luar biasa, Pak. Like it. So much..

    ReplyDelete
  3. Mantap banget pak Abduh. Luar biasa

    ReplyDelete
  4. Tidak mudah saat mengambil satu keputusan karena banyak pertimbangan. Tentu harus melihat banyak hal.

    ReplyDelete
  5. Mendorong siswa sesuai minatnya. Tak bisa menggiring mereka menuju satu titik yang sama. Mereka harus diarahkan ke titik mana yang diingini dengan selamat.

    ReplyDelete
  6. Keren dan mantap, koneksi antar materi yg benar2 diaplikasikan dalam pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Sukses jd guru penggerak!!

    ReplyDelete
  7. Luar biasa ustadz mencerahkan . Kita hendaknya selalu mempertimbangkan Keputusan yang kita buat. karena keputusan yg kita buat akan diuji kelak di hari pembalasan

    ReplyDelete
  8. daging semua telusinya tinga di santap dan di aplikasikan

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Pindah Cai Pindah Tampian

Koneksi Antar Materi: Nilai-Nilai dan Peran Guru Penggerak