Sahabat Sejati

Sahabat Sejati

Malam itu, saat aku masih tertidur, aku dibangunkan oleh seseorang yang tidak aku kenal. Dia menghampiriku dan langsung memintaku bergegas pergi. 

" Ayo kita berangkat" Dia berkata.

"Berangkat kemana?" Aku bertanya keheranan.

 "Kan dulu sudah sepakat bahwa hari ini kita akan berangkat ke stasion. Setelah itu, nanti juga kamu tahu." Tandasnya.

"Sama siapa?" Aku kembali bertanya.

"Kamu boleh mengajak sahabat-sahabatmu yang akan bersedia menemanimu." Dia menyahutku.

Di ruang keluarga, telah nampak tiga orang sahabat; Harda, Anri, dan Amlih. Aku segera mendatangi Amlih, sahabat yang paling aku sayangi. Aku rela melakukan apapun demi sahabatku ini. Pada siang hari, aku selalu menghabiskan waktu bersamanya. Bahkan, pada malam hari pun aku sering bersamanya. Aku sangat bangga dengan Harda. Aku sering memamerkan kebersamaanku dengannya kepada orang lain, baik dalam dunia nyata maupun dengan memposting di berbagai media sosial. Oleh karena itu, aku sangat yakin dia akan menolongku dengan menemaniku berangkat kesana. Namun, jauh panggang daripada api. Dia yang selama ini aku sayangi ternyata tidak mau membantuku. Jangankan untuk menemaniku, sekedar untuk mengantarku ke stasion pun dia tak mau. Aku sangat kecewa dengan Hardi. 

Aku bergegas mendatangi Anri, sahabat kedua yang aku pun sangat menyayangiya. Meskipun waktuku lebih banyak dihabiskan dengan Harda, aku juga masih bisa berbagi dengan si Anri. Tiap petang hingga pagi, aku selalu menemaninya, baik dalam suka maupun duka. Besar harapan, Anri akan menemaniku.  

"Maaf, aku hanya bisa mengantarmu sampai station. Aku tidak bisa ikut naik kereta. Aku hanya bisa mendo'akan semoga kamu selamat." Itu jawaban yang aku dengar darinya. Aku merasa sedih. Meskipun dia sangat menyayangiku, tapi dia tidak dapat menemaniku hingga destinasi terakhir.

Amlih, satu satunya sahabatku yang tersisasa. Aku sebetulnya sangat malu dengannya. Aku terlalu sibuk dengan Handa dan Anri hingga si Anlih sangat kurang mendapatkan perhatian dariku. Bahkan aku sering memperlakukannya sangat buruk. Dengan wajah tertunduk malu, aku memberanikan diri menghampirinya, berharap dia akan menemaniku. Di luar dugaan, sahabat yang selama ini acuhkan bersedia menemaniku. 

"Santai bro. Kamu duduk manis saja. Meskipun aku sering kamu acuhkan, meskipun aku sering kau tak dianggap, aku yang akan menemanimu dan menjagamu hingga stasion terakhir"

*****

Penyesalan selalu datang terlambat. Termasuk hari itu. Aku sangat menyesal telah menyia-nyiakan sahabatku yang ketiga. Padahal, Amal Solih (Amlih) lah yang menjadi sahabat sejatiku hingga akhir nanti. Sementara, Anak istri (Anri) dan Harta Benda (Harda), mereka berdua kembali.    


Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Pindah Cai Pindah Tampian

Koneksi Antar Materi: Nilai-Nilai dan Peran Guru Penggerak